- ت (tawâdhu‘) artinya rendah hati. Selain tawâdhu‘ bisa juga bermakna tadharru‘ yang berarti sama yaitu merendahkan diri di hadapan Allah dan sopan santun terhadap sesama.
- ق (qanâ‘ah) artinya menerima dengan syukur semua karunia Allah
- و (wara‘) artinya meninggalkan perkara syubhat dan tidak berfaedah
- ي (yaqîn) artinya yakin sepenuh hati kepada Allah
Di kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim” terdapat syair tentang kerendahan hati yang berbunyi :
إِنَّ التَّوَاضُعَ مِنْ خِصَالِ الْمُتَّقِي * وَبِهِ التَّقِيُّ إِلىَ الْمَعَـالِي يَرْتَقِي
Sesungguhnya rendah hati adalah salah satu ciri orang yang bertakwa
Dengannya, orang yang bertakwa mencapai derajat kemuliaan
Nabi Muhammad saw. juga telah memerintahkan kita untuk selalu bersikap rendah hati. Dalam sebuah hadits beliau bersabda :
إِنَّ اللهَ أَوْحَى ِإلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغَى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu‘, sehingga tak seorang pun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya. (HR Muslim)
Di hadits lain, Rasulullah saw. mengingatkan akan jaminan bahwa orang yang rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah.
مَازَادَ اللهُ عَبْـدًا ِبعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ
Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu‘ kecuali Allah pasti mengangkat (derajatnya). (HR Muslim)
مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ
Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya; dan siapa sombong, maka Allah menyia-nyiakannya. (HR Abu Nu‘aim)
الْكَرَمُ التَّقْوَى، وَالشَّرَفُ التَّوَاضُعُ، وَالْيَقِيْنُ الْغِنَى
Kedermawanan adalah ketakwaan, kemuliaan adalah tawadhu‘ dan keyakinan adalah kekayaan. (HR Ibnu Abi Dunya dan Hakim)
Ketika ditanya mengenai arti tawadhu‘ (rendah hati), al-Fudhail menjawab, “Kamu tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya. Walaupun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau tetap menerimanya. Bahkan, meskipun engkau mendengarnya dari orang terbodoh, engkau tetap menerimanya.”
Rendah hati adalah syarat pertama jika kita ingin mencapai derajat sebagai insan yang bertakwa.
Rendah hati merupakan puncak dari akhlak seorang mukmin, yaitu rendah hati kepada Allah, Sang Pemilik kehidupan.
Rendah hati tidak mungkin diraih hanya dengan ilmu, harus diiringi dengan amal perbuatan.
Rendah hati dari segi ilmu memang mudah dipelajari, namun dalam implementasinya membutuhkan waktu yang tidak singkat, bisa bertahun-tahun.
Rendah hati bertahap belajarnya. Seiring perjalanan usia, ilmu dan pengalaman seharusnya semakin rendah hati.
Rendah hati dapat diteladani dari diri Rasulullah saw., karena beliaulah orang paling bertakwa di seluruh alam semesta. Bahkan, malaikat pun hormat kepada beliau karena derajat beliau yang begitu mulia di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad saw. dipuji oleh Allah sebagai makhluk dengan akhlak sangat terpuji dan mendapat anugerah sebagai kekasih Allah (habîbullâh).
Di sebuah puisi, ‘Aidh al-Qarni mengungkapkan sanjungannya kepada Rasulullah saw. :
Siapa yang menghampiri pintu rumahmu, tak berhenti raga
bertutur tentang anugerah yang kau berikan
Mata bercerita tentang suka cita, tangan tentang persaudaraan,
hati tentang kelembutan, telinga tentang kebajikan
Demi Tuhan, kata-katamu mengalir bagai madu
Ataukah engkau benar-benar telah menuangkan madu pada mulut kami
Ataukah untaian makna yang kau ungkapkan
Aku melihat permata dan batu zamrud tersampaikan
Jika dirasakan oleh yang sekarat, akan tertahan ruhnya
Dan jika dipandang oleh yang di rantau, akan terobati kerinduannya
Para ulama menjelaskan bahwa rendah hati harus dimiliki dalam setiap kondisi dan tingkat atau kedudukan. Ketika kita masih belum menjadi apa-apa (tahap belajar), kita ibarat sebuah biji tanaman. Tanamlah biji itu di dalam tanah. Apabila diletakkan di atas tanah, dikuatirkan mudah dimakan binatang atau hilang disapu angin.
Saat kita berusaha mencapai puncak, hal ini laksana mendaki gunung. Agar lebih mudah mendakinya, maka badan kita harus condong ke depan dan pandangan mata ke arah bawah. Pernahkah kita melihat seorang pendaki gunung berjalan sambil menegakkan badan, mendongakkan kepala dan membusungkan dada? Semakin curam jalan yang kita daki, kita pun semakin merunduk, bahkan merayap. Bukankah pada dasarnya panjat tebing dilakukan dengan merayap?
Tatkala sudah di puncak, rendah hati tetap harus menghiasi diri. Angin pasti berhembus lebih kencang ketika kondisi kita di puncak. Agar bisa bertahan bahkan maju terus walaupun terpaan angin begitu besar, maka kita harus berjalan sambil membungkuk. Semakin kencang anginnya, berarti badan kita semakin membungkuk bahkan merayap.
Semoga Allah senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat rendah hati, amin...
Daftar Pustaka :
- ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006
- Az-Zarnuji, asy-Syaikh, “Ta‘lîm al-Muta‘allim”
- I. Solihin, Drs, “Terjemah Nashaihul Ibad (karya Imam Nawawi al-Bantani)”, Pustaka Amani Jakarta, Cetakan ke-3 1427H/2006
- Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#
Terima kasih Sharingnya Pak Faisol..........
BalasHapusSemoga Anda Sehat Selalu........
Jangan lupa silaturahim balik ya Pak......
terima kasih jg saya haturkan, saudaraku M. Surya yg baik...
BalasHapusdoa yg sama jg u/ sampean, amin...
insya Allah saya segera berkunjung, saudaraku...
'Rendah hati dapat diteladani dari diri Rasulullah saw., karena beliaulah orang paling bertakwa di seluruh alam semesta. Bahkan, malaikat pun hormat kepada beliau karena derajat beliau yang begitu mulia di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad saw. dipuji oleh Allah sebagai makhluk dengan akhlak sangat terpuji dan mendapat anugerah sebagai kekasih Allah (habîbullâh)'.
BalasHapusPernyataan di atas terlalu SOMBONG! Dengan menyatakan Rasulullah saw sebgai yang paling bertakwa di seluruh alam semesta. Ingatlah satu-satunya nabi di dunia ini bukan hanya dia.Dan dia juga hanya manusia yang pasti pernah melakukan kesalahan, kemudian menjadi nabi karena ditunjuk oleh Yang Diatas. Semua nabi pada asalnya hanyalah manusia biasa sebelum dipilih oleh-Nya.
Masih banyak nabi-nabi lain yang juga mendapat tempat khusus di tempat atau hati-Nya.
Pernyataan yang terlalu sombong tersebut juga melanggar arti kata rendah hati.
إِنَّ اللهَ أَوْحَى ِإلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغَى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu‘, sehingga tak seorang pun menyombongkan diri kepada yang lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya. (HR Muslim)
مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ
Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya; dan siapa sombong, maka Allah menyia-nyiakannya. (HR Abu Nu‘aim)
saudaraku Anonim yg baik,
BalasHapusRasul saw. adalah imam para Nabi & Rasul saw... begitu banyak bentuk penghargaan Allah u/ Rasul saw...
salah satunya:
jika Allah menyebut nama beliau, pasti diiringi dengan gelar beliau... tp bila menyebut nama nabi selain beliau, hanya nama saja...
contoh :
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.
(QS ke-33:40)
Nabi2 lain memang mendapat tempat khusus di sisi Allah, namun Nabi Muhammad saw. lebih khusus lagi, saudaraku...
Nabi Muhammad terpilih, saudaraku... tanda2 kenabian sdh ada, bahkan di kitab2 sebelumnya... itu berarti jauh sebelum beliau lahir... jd, bukan saat dewasa baru dipilih jd rasul...
begitu dulu, saudaraku... senang sekali punya saudara yg begitu kritis spt sampean...
Thanks
BalasHapusTulisan-tulisan yang mencerahkan
BalasHapusterimakasih ustadz, wa jazakumullah khairan
^ ^
Syukran Katsiran
BalasHapusJazakallah...
subhanaallah...
BalasHapussemoga tulisan saudara semua dapat menjadi suatu teguran bagi saya dan pembaca semua,sebagai pengingat dan koreksi diri..
terimakasih banyak ^_^
BalasHapuswallahualam bishawab
BalasHapusMohon ijin untuk saya bagikan di facebook
BalasHapusmakasih... mhon ijin untuk disebarkan
BalasHapushttp://masyonow.blogspot.com
Mohon ijin Copy. Trims
BalasHapusbagaimana kalau kita bersifat pemalu ?
BalasHapusmohon jawabannya
saudaraku bguz polar yang baik,
BalasHapusdefinisi "pemalu" menurut Islam, yaitu:
1. malu karena malas belajar/mengaji/ibadah/kerja keras dll...
2. malu karena melaksanakan hal2 yg dilarang agama
3. malu kepada Allah
tapi, di Indonesia, "pemalu" jadi banyak arti... ada santri disuruh ustadz u/ latihan khithabah (pidato) tapi ngga mau dengan alasan malu...
ini bukanlah pemalu, tapi grogi... hal itu harus dihilangkan dengan latihan...
begitu dulu, saudaraku...
aslmkmwarhmatullhwbrktuh......
BalasHapussemoga semua orng di dunia ini rendah tawadhu amiiin.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
BalasHapusAlhamdulilah
BalasHapusrendah hati
BalasHapusdan
lemah lembut
kuncisukses
hidup
siapa pun oranya
apapun agama nya
atau pun keyakinannya